{"id":15152,"date":"2025-10-27T17:34:21","date_gmt":"2025-10-27T10:34:21","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jumatberkah.com\/contoh-menarik-yang-sering-dipakai-dan-pengertian-singkatnya\/"},"modified":"2025-10-27T17:34:21","modified_gmt":"2025-10-27T10:34:21","slug":"contoh-menarik-yang-sering-dipakai-dan-pengertian-singkatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/?p=15152","title":{"rendered":"Contoh Menarik yang Sering Dipakai dan Pengertian Singkatnya"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div xmlns:default=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\">\n        <!-- s:toc --><\/p>\n<p>        <!-- e:toc --><br \/>\n        <strong>Jakarta<\/strong> &#8211; <\/p>\n<p>Pernah dengar ungkapan &#8220;waktu adalah uang&#8221; atau &#8220;dia bintang kelas&#8221;? Itu bukan sekadar istilah biasa, melainkan contoh dari majas metafora yang sering kita gunakan tanpa sadar.<\/p>\n<p>Untuk lebih memahami apa saja contoh majas metafora, berikut ini penjelasan singkatnya yang dikutip dari buku <em>Bahasa Indonesia SMP\/MTS IX<\/em> karya Eva Y. Nukman, dkk dan artikel berjudul &#8220;Majas Metafora dalam Puisi-puisi Karya Bara Pattyradja&#8221; oleh Dominika Dhapa dan Febronia Novita, yang terbit di jurnal Sintaks (Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia).<\/p>\n<p>Majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang menyamakan dua hal berbeda secara langsung tanpa kata penghubung seperti seperti, bagaikan, atau laksana. Gaya bahasa ini membuat kalimat terdengar lebih indah, padat, dan penuh makna. Maka itu, metafora banyak ditemukan dalam puisi, prosa, bahkan percakapan sehari-hari.<\/p>\n<p><!--s:parallaxindetail--><br \/>\n<!--e:parallaxindetail--><\/p>\n<h3 id=\"ciri-ciri-majas-metafora\">Ciri-ciri Majas Metafora<\/h3>\n<p>Untuk mengenali majas metafora, berikut ciri-cirinya:<\/p>\n<p>&#8211; Tidak menggunakan kata pembanding (seperti, bagai, laksana).<br \/>&#8211; Membandingkan dua hal berbeda secara implisit.<br \/>&#8211; Menggunakan ungkapan padat dan langsung.<br \/>&#8211; Memberi nuansa puitis, sering dipakai dalam puisi maupun karya sastra.<\/p>\n<p><!--s:static_detail--><!--e:static_detail--><\/p>\n<p>Dalam karya sastra, termasuk puisi Bara Pattyradja, ditemukan beberapa variasi metafora:<\/p>\n<h3 id=\"1-metafora-antropomorfik\">1. Metafora Antropomorfik<\/h3>\n<p>Benda mati atau abstrak diberi sifat manusia.<br \/>Contoh: &#8220;Lagu-lagu kebangsaan menyumbat nafasmu.&#8221;<\/p>\n<h3 id=\"2-metafora-kehewanan\">2. Metafora Kehewanan<\/h3>\n<p>Manusia atau hal abstrak digambarkan seperti hewan.<br \/>Contoh: &#8220;Akulah ikan-ikan yang tabah berenang di palungmu.&#8221;<\/p>\n<h3 id=\"3-metafora-konkret-ke-abstrak\">3. Metafora Konkret ke Abstrak<\/h3>\n<p>Menghubungkan hal nyata dengan konsep abstrak.<br \/>Contoh: &#8220;Dadaku sebuah samudera badai dan angin puyuh.&#8221;<\/p>\n<h3 id=\"4-metafora-sinestesia\">4. Metafora Sinestesia<\/h3>\n<p>Pencampuran indra dalam perbandingan.<br \/>Contoh: &#8220;Aku raba telapak tanganmu dan jantungmu berdebar di sana seperti meriam.&#8221;<\/p>\n<h3 id=\"perbedaan-metafora-dengan-majas-lain\">Perbedaan Metafora dengan Majas Lain<\/h3>\n<p>&#8211; Metafora: Langsung membandingkan tanpa kata penghubung.<br \/>Contoh: &#8220;Kamu adalah cahaya hidupku.&#8221;<\/p>\n<p>&#8211; Simile: Menggunakan kata penghubung (seperti, bagai, laksana).<br \/>Contoh: &#8220;Kamu seperti cahaya dalam hidupku.&#8221;<\/p>\n<p>&#8211; Personifikasi: Memberikan sifat manusia pada benda mati atau makhluk bukan manusia.<br \/>Contoh: &#8220;Angin berbisik lembut.&#8221;<\/p>\n<p>1. &#8220;Bunda, engkau adalah rembulan yang menari dalam dadaku.&#8221; \u2192 Ibu digambarkan lembut, tenang, dan indah.<br \/>2. &#8220;Ayah, engkau adalah matahari yang menghangatkan hatiku.&#8221; \u2192 Ayah diibaratkan memberi kehangatan, kekuatan, dan perlindungan.<br \/>3. &#8220;Matahari telah melahirkan para guru.&#8221; \u2192 Guru diibaratkan sebagai sumber penerangan ilmu.<br \/>4. &#8220;Dia adalah bintang kelas kami.&#8221; \u2192 Siswa terbaik atau paling menonjol.<br \/>5. &#8220;Waktu adalah uang.&#8221; \u2192 Waktu sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.<br \/>6. &#8220;Hatinya sebening kaca.&#8221; \u2192 Orang yang jujur dan tulus.<br \/>7. &#8220;Lagu-lagu kebangsaan menyumbat nafasmu.&#8221; \u2192 Lagu diibaratkan seperti manusia yang bisa menekan atau mengekang.<br \/>8. &#8220;Kulibat masalah berjalan.&#8221; \u2192 Masalah digambarkan seperti manusia yang bisa bergerak.<br \/>9. &#8220;Perih batu-batu.&#8221; \u2192 Batu diibaratkan bisa merasakan sakit layaknya manusia.<br \/>10. &#8220;Kaki tangan kesunyian.&#8221; \u2192 Kesunyian diibaratkan memiliki anggota tubuh manusia.<br \/>11. &#8220;Mengibas sayap-sayap takdir.&#8221; \u2192 Takdir digambarkan seperti burung yang bisa mengepakkan sayap.<br \/>12. &#8220;Akulah ikan-ikan yang tabah berenang di palungmu.&#8221; \u2192 Aku lirik diibaratkan ikan yang berjuang dalam hidup.<br \/>13. &#8220;Hatiku menggelepar di runcing tempulingmu.&#8221; \u2192 Hati diibaratkan ikan yang kesakitan.<br \/>14. &#8220;Beribu jiwa melolong di padang-padang gersang.&#8221; \u2192 Jiwa manusia digambarkan seperti serigala atau anjing yang melolong.<br \/>15. &#8220;Hidup bermula dari kata, berakhir pada kata.&#8221; \u2192 Hidup yang abstrak dihubungkan dengan kata yang konkret.<br \/>16. &#8220;Labuhkan sampan-sampan rohku di hulu sungai matamu.&#8221; \u2192 Roh diibaratkan seperti sampan yang bisa berlabuh.<br \/>17. &#8220;Dadaku sebuah samudera badai dan angin puyuh&#8221; \u2192 Perasaan digambarkan penuh gejolak seperti samudera badai.<br \/>18. &#8220;Kau adalah perang paling sengit sekaligus siksa.&#8221; \u2192 Seseorang diibaratkan membawa konflik besar dan penderitaan.<br \/>19. &#8220;Dengan lenguh lembu hitam kusanggah sejarah satu abad.&#8221; \u2192 Bunyi lenguh dikaitkan dengan gambaran visual lembu hitam.<br \/>20. &#8220;Sederu apa sepi.&#8221; \u2192 Deru (bunyi) dihubungkan dengan perasaan sepi.<br \/>21. &#8220;Aku raba telapak tanganmu dan jantungmu berdebar di sana seperti meriam.&#8221; \u2192 Perasaan cinta digambarkan kuat seperti dentuman meriam.<br \/>22. &#8220;Harum ketela, ubi bakar, ayam jantan kambing dengan tanduk terhunus.&#8221; \u2192 Bau harum dikaitkan dengan gambaran visual yang kuat.<\/p>\n<p>Itulah contoh-contoh majas metafora dan penjelasan singkatnya. Semoga bermanfaat, detikers!<\/p>\n<p><em><strong>*Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama<\/strong><\/em><\/p>\n<p><\/p>\n<p>        <strong>(faz\/faz)<\/strong><\/p><\/div>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/awsimages.detik.net.id\/api\/wm\/2022\/11\/24\/ilustrasi-puisi-untuk-guru_169.jpeg?wid=54&amp;w=1200&amp;v=1&amp;t=jpeg\"><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-8145401\/majas-metafora-contoh-menarik-yang-sering-dipakai-dan-pengertian-singkatnya?single=1\">Sumber : www.detik.com <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pernah dengar ungkapan &#8220;waktu adalah uang&#8221; atau &#8220;dia bintang kelas&#8221;? Itu bukan sekadar istilah biasa, melainkan contoh dari majas metafora yang sering kita gunakan tanpa sadar. Untuk lebih memahami apa saja contoh majas metafora, berikut ini penjelasan singkatnya yang dikutip dari buku Bahasa Indonesia SMP\/MTS IX karya Eva Y. Nukman, dkk dan artikel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":15153,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1637,42953,42948,42959,42956,1639,42957,552,42951,1099,176,42955,42946,42954,1645,135,1638,1635,1643,1649,1648,1651,42944,42958,6942,1569,42947,42950,42945,42949,42952,7925],"class_list":["post-15152","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa-indonesia","tag-bara-pattyradja","tag-buku-bahasa-indonesia-smp-mts-ix","tag-bunda","tag-ciri-ciri-majas-metafora","tag-contoh-majas","tag-contoh-majas-metafora-lengkap","tag-detikers","tag-dominika-dhapa","tag-gaya-bahasa","tag-ilmu","tag-jenis-jenis-majas-metafora","tag-jenis-jenis-metafora","tag-jurnal-sintaks","tag-kehewanan","tag-lagu","tag-majas","tag-majas-metafora","tag-metafora","tag-metafora-kehewanan","tag-metafora-konkret","tag-metafora-sinestesia","tag-pengertian-majas","tag-pengertian-majas-metafora-majas","tag-perasaan","tag-ptki-kementerian-agama","tag-puisi","tag-rohku","tag-sastra-indonesia","tag-sungai-matamu","tag-ubi-bakar","tag-ungkapan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15152"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15152\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/islam.jumatberkah.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}